Kamis, 24 Mei 2012

Senin, 16 Agustus 2010

pusat Rebana, Marawis, Hadrah

Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh.
Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.


sumber  :  Wikipedia






Marawis


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Marawis adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.




Sejarah


Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, dumbuk (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu
Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.
Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.
[sunting]Jumlah Pemain


Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah - kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis.








LAMONGAN, KOMPAS.com - Seni hadrah bisa mencegah stroke, darah tinggi dan stress. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ahmad Bagdja, pada Festival Seni Hadrah Nusantara di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Sabtu (20/2/2010) menjelaskan alat musik seni hadrah dimainkan langsung dengan tangan yang dipukulkan secara teratur dan berirama tanpa alat pemukul.

Hal itu membuat peredaran darah lancar termasuk sampai ke otak. "Hasil riset menunjukkan lancarnya peredaran darah membuat badan menjadi sehat dan tidak mudah terkena stroke," kata Bagdja.

Dia juga menjelaskan seni hadrah juga nemberi energi spiritual positif dan memberi ketenangan batin. Lewat lirik syairnya dengan kata-kata mutiara hikmah yang indah mengandung dakwah dan syarat pesan moral menyejukkan jiwa. "Terapi musik memberi rileksasi, apalagi kalau bernuansa Islami. Ini mencegah stress dan darah tinggi," tuturnya.

Dia juga memaparkan seni hadrah sebagai bagian dari sejarah dan perkembangan Nahdlatul Ulama. Seni hadrah sebagai media dakwah perlu diperhatikan dan dilestarikan.

Hadrah bukan saja berkembang di pesantren tetapi juga di kampus-kampus. "Sebagai seni bernuansa islami hadrah harus berkembang dan menjadi media dakwah yang bermakna bagi Nahdlatul Ulama," paparnya.

Hadrah sebagai bagian seni dan sarana dakwah dan siar islam menguatkan ajaran ahlus sunah waljamaah berdasar tradisi masyarakat. NU tempat tumbuh dan berkembangnya tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam. "Tradisi yang tumbuh di masyarakat diberi warna sentuhan agama. Nilai bersama nilai agama di pesantren sebagai pusat pendidikan dan seni menjadi kekuatan moral dan kultural," katanya menegaskan.

Festival Hadrah Nusantara digelar PBNU pramuhtamar ke-32 di Makasar 22-27 Maret mendatang dan haul pendiri Ponpes Tarbiyatut Tholabah KH Mustofa. Festival kali ini diikuti 39 peserta dari berbagai daerah untuk memperebutkan piala bergilir Ketua Umum PBNU.